Apa yang sudah dikerjakan oleh Tim PKM Untag Banyuwangi berikut ini, adalah bagian dari mengisi kemerdekaan. Mereka mampu membuat perubahan berdasarkan ilmu dan kemampuan yang dimiliki. Menggabungkan literasi dengan teknologi. Hingga tercipta DITCY (Digital Tree Literacy). Tak hanya bermanfaat bagi siswa, tapi karya mereka mampu menembus PIMNAS skala nasional.

Seperti apa penelitiannya? 

 

Di Indonesia, pembelajaran yang meletakkan siswa pada situasi yang autentik dan mandiri (self-autonomous learner) masih rendah. Standar kualitas pendidikan pada Sekolah Menengah Atas dan Pendidikan Tinggi sangat jauh di bawah standar global yang diukur dengan sejumlah indikator yang berbeda (Clark, 2014).Dia menambahkan bukti menurut hasil program penilaian siswa internasional tahun 2012, anak-anak berusia 15 tahun di Indonesia mendapat peringkat ke-64 dari 65 negara dalam bidang matematika, sains, dan membaca.Sedangkan minat baca secara global, Indonesia urutan ke 60 dari 61 negara yang di survei, dengan jumlah 0-0,001 buku yang dibaca pertahun, sedangkan Eropa dan Amerika 25-27 buku pertahun dan Jepang 15-18 buku pertahun (Kenekticket dalam Jehadin, 2017).

Asyari (2017) menunjukkan data dari lembaga survei swasta di Indonesia bahwa ketujuh hal yang disukai siswa yakni jam pelajaran kosong, tidak ada tugas dan pekerjaan rumah, ulangan harian yang diundur, tidur di kelas, jam pelajaran olahraga, makan di kantin, serta rapat guru. Kecenderungan tersebut bagi pembelajar pasif mengakibatkan tidak efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Padahal, teknologi dengan mudahnya menyediakan fasilitas yang dapat digunakan siswa untuk mengembangkan diri.Isu inilah yang membuat penulis mengkorelasi teknologi dan literasi, yang disebut digital literasi dalam membangun semangat literasi di abad 21 ini.

Peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi yang terdiri dari Putri Angie Lestari sebagai ketua tim (Fakultas KIP Prodi Bahasa Inggris), Nikmatul Keumala Nofa Yuwono (Fakultas Hukum/Ilmu Hukum), dan Yohana Kresensia (Fakultas KIP/ Bahasa Inggris) selaku anggota tim tergerak untuk menguji sebuah inovasi media digital yang dikembangkan dari konsepTree Literacy menjadi DITCY (Digital Tree Literacy) sebagai solusi yang memudahkan siswa merangkum/meringkas/menyimpulkan bacaan melalui konsep growing tree digitally dalam membaca secara ekstensif (Extensive Reading) untuk kesenangan. DITCY merupakan media yang baik dan efektif bagi siswa masa kini karena melibatkan unsur visual yang colorful dan customizable (dapat disesuaikan) untuk menarik minat siswa dalam membangun kebiasaan membaca untuk kesenangan, serta menulis setelah membaca.

Penerapan pembelajaran DITCY dilakukan secara bertahap yang dikemas selama 7 hari.Pada pertemuan ke-1 pembelajaran yang disuguhkan adalah modeling of the text. Siswa belajar diajak terlibat dalam reading extensively, analyzing text, dan being a word detective. Dari data foto yang telah diambil oleh peneliti,siswa begitu antusias dan fokus dalam membaca dan menganalisis suatu bacaan.Untuk menarik minat baca siswa, peneliti memadukan game guessing words yang berhubungan dengan bacaan yang mereka bacakan. Peneliti menyimpulkan bahwa ternyata pembelajaran yang dipadukan dengan game bisa membuat siswa lebih aktif dan lebih bersemangat.

Pada pertemuan kedua, peneliti mengajarkan siswa cara questioning. Peneliti juga menggunakan game musical chairs. Game ini sangat memacu siswa untuk lebih bersemangat dalam memahami konten bacaan.

Pada pertemuan ketiga, tema belajarnya adalah sentence construction. Siswa diberikan sekumpulan kata yang telah di acak kemudian masing-masing siswa disuruh untuk menyusun kata-kata tersebut menjadi kalimat yang benar. Ada beberapa siswa yang sudah mulai bisa untuk membuat kalimat dengan benar meskipun ada sebagian yang  masih dibantu oleh peneliti.

Pada pertemuan ke-4 topik beralih pada navigating & viewing dan designing tree. Siswa diajarkan bagaimana cara untuk mengakses bacaan secara online, dan mengoperasikan template DITCY pada komputer untuk siswa desain ulang sesuka mereka dalam pembuatan pohon literasi digital.

Pada pertemuan ke-5 peneliti mengajarkan ulang cara mendesain pohon literasi dilanjutkan belajar cara summarizing. Setelah mereka mampu menguasai dasar-dasar pembelajaran DITCY yang diterapkan selama 5 pertemuan tersebut, maka peneliti menantang siswa dalam students’project pada pertemuan ke-6 dan ke-7Pada tahap ini siswa dilatih untuk creating and implementing digital tree literacy.

Di Banyuwangi, SMP Negeri 2 Glagah merupakan sekolah pertama yang telah menerapkan DITCY dalam pembelajaran bahasa inggris selama dua minggu berturut-turut. Di awal pertemuan, terlihat jelas siswa-siswi tak terlalu tertarik dengan bahasa inggris. Hal ini bisa dilihat dari vocabulary mereka yang masih minim, di mana mereka masih kebingungan saat dihadapkan dengan kosa kata yang ada di lingkungan sekitar.

Bu Hakim selaku guru bahasa inggris juga mengatakan, “Minimnya kosa kata siswa-siswi juga dikarenakan media pembelajaran yang kurang bagi mereka.”Ini merupakan sebuah tantangan bagi tim dalam pemilihan teks bacaan yang diberikan pada siswa-siswi, mengingat bahasa inggris adalah bahasa asing bagi mereka.

Selama dua minggu, peneliti melihat ketertarikan siswa-siswi terhadap DITCY semakin meningkat. Hal ini dikarenakan, adanya rasa senang ketika teknologi yang berbasis aplikasi seperti gimp mampu mereka kuasai hingga dapat membuat mereka tak jemu dalam membaca. Model pohon literasi yang lumayan banyak, dibantu dengan warna-warni pohon membuat mereka tak mudah bosan. Bapak Muhamad selaku Kepala SMPN 2 Glagah mengatakan, “Jika program ini (DITCY) dapat berjalan baik dan mempermudah siswa dalam belajar, maka program ini bisa menjadi metode pembelajaran tambahan bagi sekolah.”

Selain itu, KASI Peningkatan Mutu dan PTK SMP Se-Kabupaten Banyuwangi, Bapak Sutikno juga memberikan komentar positif terkait kegiatan ini, “Program ini sangat bagus karena akan memberikan image kepada pelaku pendidikan khususnya di sekolah. Anak-anak terus didorong untuk mampu membaca, komunikasi, mengingat minat baca mereka yang rendah. Apalagi dengan istilah DITCY ini akan mendorong mereka untuk lebih maju lagi dan meningkatkan kompetensi.”

Program DITCY akan sangat efektif, bila penerapannya dapat dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengingat keterbatasan sarana pendidikan seperti laptop, maka kegiatan DITCY dapat dilakukan secara berkelompok.*

 

*hasil penelitian ini diikutsertakan dalam PKM – Program Kreatifitas Mahasiswa dan dinyatakan lolos ke PIMNAS 2018

Selamat dan Sukses!
Teruslah berjuang, meraih prestasi gemilang di PIMNAS 2018 untuk UNTAG Banyuwangi.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X