Kehadiran Untag Banyuwangi dalam Global Presidential Summit di National Pingtung University kemarin tidak hanya untuk melakukan proses tanda tangan MoU, melainkan pula juga untuk bertukar pikiran. Hal ini karena muncul berbagai kekhawatiran tentang posisi universitas di masa depan. Seperti yang telah banyak terjadi, kini banyak perusahaan besar seringkali tak lagi melihat aspek legal seperti ijazah maupun sertifikat sebagai prasyarat untuk diterima kerja, melainkan lebih pada kompetensi.

Merespon hal ini, Pihak NPTU menyediakan satu hari khusus untuk mewadahi para pimpinan universitas yang hadir untuk menyampaikan gagasannya. Namun tidak semua universitas diberi kesempatan. Dari ratusan universitas yang hadir, hanya 10 universitas yang diberi kesempatan bicara. Dan Untag menjadi salah satu yang diberi kesempatan bersama sembilan kampus lain yang berasal dari Amerika, Rusia, Taiwan, Jepang, Korea, Filipina, dan Thailand.

Prof Mike Y. K. Guu membuka forum ini dengan memberikan pengantar tentang tantangan universitas di masa depan. Menurutnya, universitas di masa depan harus lebih memperkuat posisinya sebagai bagian dari solusi permasalahan. Universitas harus bisa melahirkan produk riset yang memiliki kesesuaian dengan industri. Selain itu, sebenarnya universitas seharusnya juga turut ikut bertanggungjawab dengan lingkungan sosial. Turut berkontribusi menyelesaikan persoalan masyarakat.

Rektor Untag Andang Subaharianto melihat hal lain. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa keberadaan teknologi telah banyak mendisrupsi banyak hal. Universitas di Indonesia (sebagai negara-bangsa pascakolonial) memikul beban sejarah yang tak ringan. Ada tiga faktor penting yang menjadi referensi ke mana Universitas di Indonesia harusnya dikembangkan. Pertama, ideologi nasional, Pancasila.Universitas di Indonesia harus bisa membahasakan Pancasila menjadi sistem-sistem kehidupan melalui bahasa akademik. Kedua, realitas keragaman bangsa Indonesia. Universitas memikul beban menjaga kohesi sosial, menanamkan kepada para mahasiswanya sikap dan pandangan yang toleran terhadap perbedaan. Hal ini penting sekali bagi eksistensi Indonesia, sekaligus bagi dunia.Ketiga, dinamika global. Indonesia tidak mungkin menutup diri. Tetapi dinamika global haruslah dijaga agar tidak ada bangsa yang merasa dirugikan. Kolaborasi yang saling menguntungkan adalah strategi yang harus dikembangkan oleh bangsa-bangsa di dunia dan Universitas ke depan.

Andang juga melihat bahwa Tantangan Universitas ke depan semakin berat. Peradaban akan segera bergeser ke zaman digital. Akan banyak pekerjaan dan keahlian yang diambilalih oleh teknologi digital. Termasuk tugas dan fungsi Universitas. Orang belajar sesuatu tidak lagi melalui lembaga pendidikan, tapi secara perseorangan atau komunitas melalui teknologi digital online. Maka, Universitas harus segera mendefinisikan diri. Bagi negera-bangsa pascakolonial semacam Indonesia, tantangan tersebut sangat tidak mudah diatasi. Dan hal ini akan bisa dihadapi dengan berkolaborasi dan  bersinergi.

Tidak selesai dalam sesi formal, diskusi masih berlanjut pada saat Gala Diner. Bahkan pada sesi ini arah diskusi menjadi lebih berkembang. Tak Jarang Prof Mike menyambangi satu persatu round tablepara undangan. Kebetulan karena delegasi untag dari FKIP, saat gala diner banyak perwakilan dari faculty of educationn dari berbagai negara yang duduk bersama.

Adita Taufik W, M.Pd, Wakil Dekan Bidang Kerjasama FKIP yang juga terlibat banyak dalam diskusi menjelaskan bahwa Dalam diskusi ini mereka nampak tertarik dengan dinamika pendidikan di Indonesia. Misalnya saat kita bercerita tentang isi siswa dalam satu kelas di indonesia bisa 40 – 45 siswa. Mereka sangat penasaran. Muncul pertanyaan dalam benak mereka bagaimana mengelola dan mengontrol kelas sebesar itu. Padahal kalau di negara mereka satu kelas umumnya 15 – 25 siswa, itupun jumlah guru yang terlibat bisa sampai tiga orang. Namun itulah seninya. Dinamika pendidikan di Indonesia memang lebih kompleks. Tapi berkat ini guru – guru kita juga semakin kreatif.

Diskusi mengalir juga tentang curhatan jumlah guru yang dibutuhkan semakin terbatas. Seperti di Taiwan, Prof. Ted Yu Chung Liu, guru besar ilmu pendidikan yang juga Dean Office of International Affairs NPTU menjelaskan bahwa seringkali juga mendorong mahasiswanya menjadi guru di luar negeri, seperti di China Daratanatau negara sekitar. Sesekali pula terkadang mahasiswanya bekerja pada bidang lain yang kompetensinya masih dapat dijangkau. Hal ini berbeda dengan kita. Karena setiap mahasiwa di FKIP meski jurusannya kependidikan, tapi kita bekali dengan kompetensi soft skill dan entrepreneurship.Jadi jika mungkin mahasiswa ada passion lain atau tidak jadi guru, mereka bisa segera bergeser pada bidang lain. Semoga saat event cultural camp di Banyuwangi nanti para dosen dari kampus mitra luar negeri yang hadir bisa meluangkan waktu lebih lama agar bisa kita tunjukan berbagai bentuk dinamika dunia pendidikan di Indonesia yang membentuk watak kegigihan kita, imbuh Adita.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X