Perjalanan panjang kekuasaan orde baru di Indonesia memang manghasilkan sejumlah kesuksesan, namun ada sisi lain yang harus diketahui terutama oleh kalangan mahasiswa. Inilah yang dikupas dalam seminar nasional ‘Melawan Lupa, Membaca jejak KKN orde Baru’. Seminar ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag 1945 Banyuwangi (11/01).

Seminar ini menghadirkan Dr. Ikhwan Setiawan S.s, MA, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember; Dr. Oce Madril, SH. MA., Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi UGM; dan M. Il Badri, S.S, M.Hum, Dosen Sejarah Agraria Untag 1945 Banyuwangi.

Menurut Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi UGM Oce Madril, orde baru adalah orde yang kontroversional. Terbukti dari pembagian kekuasaan yang dilakukan oleh orde baru memunculkan eksekutif sebagai lembaga super power. Padahal seharusnya pembagian kekuasaan rata yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Rektor Untag Banyuwangi, Andang Subaharinto mengatakan  pandangan tentang orde baru tidak boleh dilihat sepotong. Namun, harus secara utuh. Sehingga, pandangan tentang orde baru bisa dipahami secara riil. “ Kami ingin menyegarkan pandangan tentang orde baru yang mulai dilupakan masyarakat. Jangan sampai, dilihat sepotong. Persoalan tentang suburnya KKN dalam orde baru juga harus dijadikan pengalaman,” kata Andang. Menurutnya, sejak tahun 1990-an, banyak literatur yang ditulis terkait praktik KKN selama masa orde baru. Karena itu, pihaknya ingin memberikan pemahaman ke mahasiswa dan masyarakat terkait masa pemerintahan orde baru. Apalagi, dalam pemilu tahun ini, salah satu parpol di bawah kendali putra mantan penguasa orde baru ikut bertarung. “ Dalam reformasi, ini sah-sah saja. Tapi, perspektif tentang orde baru ini harus dipahami secara utuh,” jelasnya.

Andang mencontohkan keberhasilan swasembada pangan yang dijadikan unggulan masa orde baru. “ Soal swasembada pangan, kita sepakat. Tapi, proses itu juga harus dilihat utuh,” tegasnya. Proses swasembada pangan selama orde baru, kata dia, ada konteks yang terputus dan wajib dibaca. Menurutnya, saat proses swasembada pangan, pemerintah orde baru melakukan revolusi hijau. Petani kala itu dipaksa mengikuti revolusi hijau. Bahkan, dampaknya hingga kini masih terasa. “ Hal seperti ini yang seringkali lepas konteks. Dan, harus dipahami ke masyarakat dan dibaca dengan kritis,” imbuhnya.

Pihaknya berharap seminar “Melawan Lupa” ini bisa memberikan pandangan ke mahasiswa dan masyarakat tentang orde baru. Apalagi, selama ini, mereka hanya melihat dari layar televisi. Seminar ini menghadirkan para ahli sejarah. Diantaranya, Oce Madril (Direktur Pusat Kajian Anti-Kirupsi UGM), Ikhwan Setiawan (Dosen Ilmu Budaya-Unej) dan M.Il Badri (Dosen Sejarah Agraria Untag Banyuwangi).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X