Ada pemandangan yang berbeda dalam pelaksanaan wisuda sarjana di auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Sabtu (4/7) lalu. Prosesi kali ini menerapkan protokol kesehatan sangat ketat, yang disebut kebiyasaan anyar.

Sebanyak 221 orang sarjana mengikuti prosesi wisuda ke XXXVIII periode II tahun akademik 2019/2020. Mereka menjalani prosesi yang teknis pelaksanaannya berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Prosesi wisuda dibagi dalam dua tahap, yakni tahap pertama pada pagi hari dan tahap kedua pada siang harinya.

Para sarjana juga harus menjalani protokol yang sangat ketat. Selain mengenakan baju kebesaran wisuda, yakni toga, para sarjana wajib memakai face shield sebagai pelindung wajah. Di samping itu, mereka masih harus memakai masker untuk melindungi mulut dan hidung.

Saat memasuki gerbang kampus Untag, para sarjana diperiksa suhu badannya satu per satu. Sejak pukul 06.15, para wisudawan dan wisudawati sudah berdatangan.  Mereka diantarkan oleh orang tua maupun sanak saudara. Namun, para pengantar dilarang ikut masuk ke dalam lingkungan kampus.

Di luar pintu masuk menuju tangga auditorium, mereka dipersilakan mencuci tangan dengan sabun antiseptik. Tak hanya itu, saat hendak masuk auditorium, mereka diminta memakai hand sanitizer yang disemprotkan oleh panitia ke tangan masing-masing wisudawan. Namun, itu saja belum cukup. Selama menjalani prosesi tercatat tiga kali harus memakai hand sanitizer. Saat hendak menjalani prosesi wisuda di atas podium, mereka juga diminta membasahi tangan dengan cairan hand sanitizer lagi. Begitu juga usai turun dari podium saat hendak kembali ke kursi masing-masing. Bahkan pulpen yang telah dipakai tanda tangan dilap dengan tisu dan cairan alkohol oleh panitia.

Jaga jarak antar sarjana juga wajib dilakukan. Hal itu tampak sejak dari masuk gerbang kampus. Saat antre cuci tangan maupun antre saat hendak masuk auditorium, benar-benar dijaga jaraknya. Minimal jaraknya tiga ubin. Saat hendak maju ke podium juga diatur jaraknya oleh panitia. Bahkan jarak antar kursi tampak renggang sekitar 1 meter ke samping maupun ke depan dan belakang.

Kepada rektor dan dekan fakultas pun, para sarjana tidak diperkenankan melakukan jabat tangan. Apalagi bersalaman antar sarjana. Ungkapan selamat cukup diucapkan secara lisan tanpa menyalami wisudawan. Usai pelaksanaan wisuda, para sarjana langsung diminta meninggalkan auditorium. Bahkan tidak diperkenankan berfoto-foto di lingkungan kampus untuk menghindari kerumunan. Mereka langsung diminta keluar dari halaman kampus Untag. Praktis, prosesi wisuda tahap 1 yang diikuti 110 sarjana berlangsung tidak lama, dimulai tepat pukul 08.00 dan berakhir sekitar pukul 09.45.

Usai dipakai wisuda, auditorium disemprot disinfektan. Kursi, meja, pegangan pintu, dan semua fasilitas yang kemungkinan sempat disentuh oleh peserta dan panitia, disterilkan. Selanjutnya ruangan disiapkan untuk prosesi wisuda tahap kedua yang dimulai pukul 13.00 dan berakhir hanya dalam tempo kurang dari dua jam. Wisuda tahap kedua itu diikuti oleh 111 sarjana. Susunan acaranya pun sama dengan wisuda tahap pertama, yakni pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu Mengheningkan Cipta. Kemudian pembukaan rapat terbuka senat Untag Banyuwangi, laporan Rektor Untag, dan pembacaan surat keputusan rektor. Selanjutnya, pengukuhan, wisuda sarjana, janji wisudawan, pemberian penghargaan indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi dan masa studi tercepat. Sebelum ditutup, acara diakhiri dengan pembacaan doa.

Tak banyak undangan yang hadir dalam wisuda kali ini. Ketua Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) 17 Agustus 1945 Sugihartoyo, SH, MH hadir bersama seorang pengurus, Komari. Selain itu, undangan dari jajaran struktural fakultas digilir sesuai tahapan wisuda.

Meski dalam suasana protokol yang ketat, kegiatan tetap berjalan meriah. Semua itu berkat penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Untag. Mereka menggemakan lagu Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, dan Mengheningkan Cipta. Selain itu, juga menyanyikan Gema Untag dan Hymne Untag. Tak hanya itu, UKM Paduan Suara juga melantunkan lagu Bersenandung dan Bangun Pemuda-Pemudi. Suara mereka membahana membangkitkan semangat di seantero ruangan auditorium.

Tak kalah dalam membangkitkan semangat para sarjana adalah pidato Rektor Untag Banyuwangi Drs Andang Subaharianto, MHum. Menurutnya, wisuda 221 wisudawan dari sebelas program studi di Untag kali ini berbeda dari biasanya. Wisuda kali ini diselenggarakan dengan mengikuti standar protokol kesehatan yang ketat untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19. “Wisuda yang penuh keprihatinan, wisuda dengan kebiayasaan anyar,” ujarnya.

Diakui, Untag telah menunda pelaksanaan wisuda yang seharusnya dilaksanakan pada bulan April lalu. Rektor berharap, para wisudawan tetap semangat dan mampu mengambil hikmah dari bencana pandemi Covid-19. Pesan Andang, gelar sarjana menandai tanggung jawab sebagai warga negara maupun umat manusia, sehingga harus membuktikan mampu memberi kontribusi yang lebih baik kepada masyarakat, bangsa, dan negara.   “Atas capaian para wisudawan, saya mengucapkan selamat,” katanya.

Sementara itu, rektor memberikan penghargaan kepada sarjana yang berprestasi terbaik dan telah menempuh studi tercepat. Tiga sarjana berhasil meraih prestasi terbaik maupun lulus tercepat. Mereka adalah Firza dan Ayu Kurniasari Hamzah. Dua sarjana manajemen itu berhasil meraih IPK sempurna, yakni 4.00. Sedangkan sarjana yang mampu menyelesaikan studi tercepat adalah Endang Sasmito Purwanti dari program studi akuntansi. Dia berhasil menuntaskan studi hanya dalam tempo tiga tahun, empat bulan, sepuluh hari.(*) Berita dan Foto : Radar Banyuwangi, 06 Juli 2020

X